PROFIL SENIOR

SENSEI SETIA PURNAMA

sp 5

Sensei Setia Purnama lahir di Jakarta pada tahun 1955 dan merupakan salah satu di antara para pendiri IKKA. Sebagai senior yang berperan dalam memajukan IKKA dan banyak membuka hubungan dengan Vice President IKO Matsushima yaitu Hanshi John Taylor di Australia, serta Kancho Matsushima di Jepang, layaklah Sensei Setia memegang jabatan Branch Chief IKO Matsushima untuk Indonesia dan jabatan Chief Instructor dalam kepengurusan IKKA. Kegemaran Sensei Setia membaca berbagai buku dan mendalami ilmu karate membuat beliau mempunyai pengetahuan yang luas, baik mengenai teknik-teknik karate maupun filosofi hidup.

Berikut adalah hasil wawancara editor buletin Sho Shin dengan Sensei Setia Purnama di sela-sela kesibukan beliau melatih dan bekerja.

Bagaimana awal mula Sensei Setia berlatih karate ?

Walaupun saya lahir di Jakarta, namun saya besar dan bersekolah di Bandung, sehingga lebih merasa sebagai orang Bandung. Nah pada saat SMA kelas dua di Bandung itulah saya mencoba mulai berlatih Kyokushin Karate dibawah bimbingan Senpai Subagyo (almarhum).

Yang menarik… jauh sebelum mulai berlatih saya pernah membaca ‘What is Karate’ dan ‘This is Karate’, buku karangan Sosai Oyama. Ayah saya mempunyai toko buku, dan sejak SD setiap akhir minggu saya membantu di toko ayah saya. Latihan seni beladiri pada saat itu merupakan keinginan saya sejak kecil, karena tidak mau sekedar menjadi seorang kutu buku. Tetapi karena pada waktu saya berusia empat tahun pernah mengalami gegar otak, yang menyebabkan dirawat di rumah sakit selama satu bulan lalu bed rest lagi di rumah selama satu bulan, kemudian pernah mengalami patah tulang lengan kiri pada usia tujuh tahun, maka ijin dari orang tua untuk berlatih seni beladiri menjadi sulit.

Ketika SMA kesempatan itu datang karena membaca poster Kyokushin Karate (Pembinaan Mental Karate), saya cepat-cepat daftar dahulu di suatu tempat dekat sekolah, baru memberitahu orang tua. Dalam hal ini ibu saya yang paling was-was, sedangkan ayah saya cenderung ingin anak laki-lakinya dilatih lebih keras. Ternyata lokasi tempat latihan tidak jauh di belakang rumah  kami waktu itu, cukup ditempuh dengan berjalan kaki tidak lebih dari 10 menit.

Tentunya ada kenangan khusus selama Sensei Setia berlatih ?

Saat-saat awal latihan merupakan ujian yang sungguh berat bagi saya, karena fisik yang tidak memadai, tidak berbakat, meskipun sebetulnya saya sangat antusias. Beruntung sekali saya dilatih oleh seorang guru seperti Senpai Subagyo, yang memberi ijin untuk beristirahat ketika melihat muka dan bibir saya yang sudah pucat (itu menurut teman-teman yang waktu itu melihat paras wajah saya) dan juga mata sudah mulai berkunang-kunang.

Sampai akhirnya enam bulan berikutnya saya bisa ikut ujian dengan kondisi fisik yang menurut saya jauh lebih meningkat dan memadai dibandingkan saat awal latihan. Ujian selanjutnya merupakan latihan kumite, meskipun pada awalnya diatur dan bergiliran menyerang, perasaan takut sedemikian besar sampai-sampai lutut bergetar dan hal itu terlihat juga oleh teman-teman lain yang duduk rapi di samping. Ketika pertama kali ditanya bagaimana perasaan saya tentang kumite, hanya sebuah kata yang muncul dari mulut saya yaitu “takut senpai”. Senpai Subagyo hanya tersenyum, dan ternyata lain kali di dojo malah beliau memberi kesempatan kumite lebih sering dan lebih banyak kepada saya dibandingkan teman-teman lain. Sampai sekarang pun saya masih mempunyai perasaan takut kalau hendak kumite, dan ini normal, sehingga saya mempunyai prinsip : kalau merasa takut sebaiknya maju terus, supaya lain kali tidak setakut itu lagi.

Bagaimana akhirnya Sensei Setia bisa menjadi seorang instruktur ?

Setelah berlatih selama empat tahun, pada akhir tahun 1978 sampai awal tahun 1979 saya ditunjuk menjadi co.asisten oleh Sensei (waktu itu Senpai) Unang yang menggantikan Senpai Subagyo yang pindah bekerja ke Jakarta. Itupun karena Sensei Unang terpaksa harus bertugas di luar kota Bandung, yaitu di Padang. Bukan hal yang mudah menjalankan tugas dan kewajiban memimpin latihan, karena waktu itu bukan hanya saya satu-satunya warga yang bertingkatan kyu dua, masih ada beberapa yang lain, termasuk senior saya. Bahkan belakangan masuk juga beberapa warga yang bertingkatan kyu satu, baik dari luar kota maupun dari Bandung sendiri. Sebagai seorang yang bertingkatan kyu dua saya hanya berpikir bahwa ini adalah kewajiban saya dan saya harus bertanggung jawab atas dojo yang bersangkutan.

Ketika saya meninggalkan Bandung seijin Shihan Nardi pada tahun 1989 karena harus bekerja di Jakarta, waktu itu sudah ada lima dojo di bandung yang berjalan dan dipimpin oleh beberapa co.asisten.

Apakah yang menjadi pemikiran Sensei Setia berkaitan dengan perguruan kita ?

Setelah Shihan Nardi meninggal, dengan munculnya segala hal yang menyangkut organisasi maupun kepemimpinan, saya berkenalan dengan Hanshi John Taylor di Sydney Australia. Perkenalan ini berlangsung melalui teman baik saya yang sudah belasan tahun sebelumnya ingin mempertemukan saya dengan Hanshi, akan tetapi dulu saya merasa masih kurang nyaman. Pertemuan saya dengan Hanshi dan beberapa kali ikut berlatih di dojo di Australia, sampai akhirnya bergabungnya IKKA dengan beraffiliasi ke IKO Matsushima, semua ini memberikan horizon yang berbeda bagi saya, demikian juga tentang pemahaman dunia Kyokushin Karate.

Berlatih Kyokushin Karate memberikan kontribusi besar dalam pembentukan kepribadian saya, baik dalam berpikir maupun bekerja, dan merupakan suatu hal yang membahagiakan bisa berbagi dengan sesama warga Kyokushin selama ini. Banyak sekali teman yang saya dapatkan melalui proses berlatih dan melatih ini.

Suatu hal yang membanggakan bisa berada di antara para Kyokushin sejati.

Oss

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>