ARTIKEL UTAMA

PROFESIONALISME INSTRUKTUR

Pada umumnya ketika kita mendengar kata profesional, maka kita akan menghubungkan kata itu dengan amatir.

Pengertian umum kita tentang profesional adalah mereka yang mendapatkan imbalan karena ketrampilannya, pekerjaannya ataupun kegiatannya.

Padahal profesional mempunyai pengertian yang jauh lebih mendalam dari pada sekedar penghidupan atau mata pencaharian.

Seseorang bisa dikatakan sebagai profesional bila yang bersangkutan mempunyai kualifikasi tertentu, kompeten dan bisa diandalkan dalam pekerjaannya.

Untuk bisa memenuhi ekspektasi orang pada umumnya, seorang profesional harus melewati suatu jenjang pendidikan atau pelatihan tertentu. Yang bersangkutan harus memahami apa yang sedang dan akan dilakukannya dalam menunjang profesinya, dia juga wajib menjaga diri dari tindakan yang melanggar etiket, kebiasaan ataupun nilai-nilai moral yang berlaku pada umumnya.

Sebagai instruktur yang profesional, horizon harus diperluas. Kita wajib selalu memperbaiki teknik maupun cara menyampaikannya kepada warga, perlu selalu membekali diri dengan informasi dan pengetahuan umum dari berbagai referensi, dan selalu berhati-hati dalam bertindak ataupun berbicara, karena instruktur adalah figure yang paling sentral di dalam sebuah kelas dimana para warga akan mencoba menirunya.

Jadilah seorang instruktur profesional yang komprehensif.

images-9

 

TATA KRAMA, SOPAN SANTUN, ETIKET

Kadang kita mendengar orang tua kita mengatakan : “anak-anak sekarang kurang sopan”, atau generasi yang lebih tua mengkritik generasi lebih muda dengan mengatakan : “ kurang tau tata krama”. Sesungguhnya… apa sih yang diharapkan oleh kita semua ?

Memang benar bahwa etiket, kebiasaan, sopan santun yang berlaku di suatu daerah atau kelompok tidak selalu sama, namun ada suatu prinsip yang baku tentang sopan santun itu, yaitu berkaitan dengan HAK dan KEWAJIBAN.

Antri adalah salah satu bentuk nyata dari pelaksanaan sopan santun. Orang yang berada di depan tentu berhak untuk dilayani lebih dahulu, karena yang bersangkutan sudah menunaikan kewajibannya untuk berusaha menunggu lebih awal.

Setiap kendaraan dalam berlalu lintas tentu berhak untuk berjalan lurus ataupun belok. Tapi mereka juga mempunyai kewajiban untuk memberi indikasi, tanda dan menunggu giliran.

Apa yang sering terjadi hari-hari belakangan ini ?

Menyetir seenaknya, berebut tempat meskipun orang lain sudah berbaris di depannya. Seolah-olah dirinya sudah tidak ada waktu lagi, merasa dirinya orang penting dan yang paling sibuk. Kalau berada di tempat umum dan membuka pintu tidak mempedulikan orang di belakangnya, atau kalaupun ada orang yang membukakan pintu malah lewat begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih, seolah-olah itu kewajiban orang lain, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa tingkah laku seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungannya ? Sejak masa anak-anak… tanpa disengaja banyak orang tua yang memanjakan mereka. Apa yang diminta selalu disediakan oleh orang tuanya. Waktu kecil memberi makan pun harus mengejar-ngejar seolah-olah yang perlu makan adalah orang yang menyediakan, waktu dewasa sekolah ditanggung, begitu lulus sekolah…kerja disubsidi, modal diberikan dan bahkan saat menikah pun dibiayai dengan permintaan yang berlebihan. Nah…terbiasa menjalani kehidupan seperti itu sejak kecil, tidaklah mudah yang bersangkutan belajar untuk  bertenggang rasa, mengerti hak orang lain, maupun menghargai usaha orang lain.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain di Asia, bahkan di Amerika. Suatu generasi lebih memanjakan generasi berikutnya secara berlebihan dan ini menjadi issue yang aktual belakangan ini.

Melalui sistem latihan di perguruan kita IKKA, kita harapkan kemanjaan bisa berkurang, rasa disiplin meningkat, lebih bisa tahu diri, tenggang rasa, tahu kelebihan orang lain dan kekurangan diri sendiri.

Ada pepatah Tiongkok kuno yang mengatakan bahwa bila kita ingin mendidik seseorang supaya “jadi orang“, yaitu menjadi seorang pemimpin, menjadi seorang yang berguna, maka “laparkan perutnya dan pahitkan hatinya.” Artinya untuk mendidik seseorang supaya berhasil maka kita harus menggembleng fisiknya dan membina mentalnya. Jangan melunak untuk hal-hal yang bersifat prinsipil, yang akan mempengaruhi kemampuan adaptasi dalam hidup ke depan, misalnya dalam hal mandiri, tahu tata krama, sopan santun, menjaga sikap berdiri, duduk dan sebagainya.

Sopan santun, tata krama, etiket adalah suatu ketrampilan seseorang dalam hidup bermasyarakat, bekerja dan berkarya. Bahkan bisa disebut sebagai alat bantuan untuk hidup atau survival kit.

Karena itu mari kita jaga anak-anak kita, kita beri bekal pada generasi berikutnya supaya mereka kelak bisa hidup lebih sejahtera.

family

 

                                                                               SHO SHIN                                                                                   LANDASAN BERPIKIR IKKA

Sho Shin secara harafiah berarti Pikiran Pemula.

Namun Sho Shin lebih bermakna bila diartikan sebagai suatu keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang baru, memulai sesuatu yang baru dengan hati dan pikiran yang terbuka, mau melakukan instrospeksi diri, mau berubah dari pola berpikir yang lama yang selama ini menjadi suatu kebiasaan kita, demi tujuan yang kita sadari bersama akan menjadi lebih baik.

IKKA didirikan berlandaskan cara berpikir Sho Shin.

Ibarat seorang pemula, penuh harapan, penuh dengan antusiasme, penuh dengan idealisme dan juga dengan penuh kehati-hatian. Dimulai dengan sesuatu yang kecil, sedikit demi sedikit kita berharap IKKA suatu saat bisa memberikan manfaat bagi warga dan juga masyarakat umum.

 Small deeds done are better than great deeds planned. ( Peter Marshall )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>